Tampilkan postingan dengan label cerita hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita hidup. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Januari 2016

Catatan Perjalanan Gunung Guntur 2015


Satu tahun telah berlalu setelah pendakian terakhir kami ke Gunung Pangrango. Rasa jenuh dan rindu begitu menggebu di hati kami untuk bercumbu kembali dengan alam. Dengan perencanaan yang begitu mendadak, yakni Sabtu, 19 Desember 2015, saya dan kawan-kawan di Sahabat Hikers berkumpul di sebuah food court di bilangan Kopo, Bandung. Adalah saya, “Mr. President” Irvan, “Ustadz” Helmy, dan Mey berkumpul membicarakan rencana ini. Namun sayang sekali Mey tidak bias ikut bergabung dalam keberangkatan kali ini.

Sabtu, 11 Juli 2015

Catatan Kecil Hari Ke-25

Sudah hampir dua minggu saya tidak mengirim pesan pada kamu. Iya saya rindu. Entah kesibukan macam apa yang melenakan saya dari kamu. Segala tetek bengek pekerjaan sudah saya lalui, setiap malam pun saya memiliki waktu senggang, tapi entah kenapa saya begitu enggan untuk mengirim pesan singkat saja pada kamu. Mungkin saya terlalu malu. Saya malu mengakui perasaan rindu ini. Kamu tahu? Kamu itu enak tidak tahu beratnya rasa rindu.
Sudah hampir dekat dengan hari raya kamu, saya masih bingung apa bisa saya berikan. Mungkin hadiah sederhana seperti tahun lalu. Karena mungkin hadiah tahun ini akan menjadi hadiah terakhir dari saya, entah perasaan saya mengatakan demikian. Banyak kemungkinan pada diri kamu, pada diri saya dan pada diri kita. Saya tidak tahu kemungkinan mana yang bakal jadi kenyataan. Membayangkan yang terbaik tapi menyiapkan yang terburuk. Itu saya.
Saya dengar akhir-akhir ini kamu semakin gelisah. Entah karena kamu merasa kesepian atau sudah ada seseorang yang mengobati kesepian kamu itu, saya tidak tahu. Tapi jika hal terakhir yang terjadi, saya turut berbahagia. Kamu tahu hal yang membahagiakan itu apa? Yakni melihat seseorang yang kita sayangi berbahagia. Semoga kebahagiaan selalu menyertai langkahmu.

Terakhir, entah kenapa pertanyaan kamu waktu itu tentang naik gunung selalu ada di pikiran saya. Saya sungguh ingin mengajak kamu naik gunung. Berdiri di puncak kemudian berteriak sepuas kita. Melihat kebun penuh bunga edelweis seperti yang kamu inginkan. Tapi entah kapan saya bisa mewujudkan keinginan kamu itu atau barangkali orang lain yang akan melakukannya. Siapa saya atau orang lain, saya hampir tidak peduli. Saya hanya ingin melihat senyum kamu lagi walau sekali.

Sabtu, 05 April 2014

#OJT444

Hari itu, 1 Oktober 2013. Saya dipertemukan dengan Opik, Dimas dan Fitri dalam sebuah keluarga bernama KPP Pratama Majalaya untuk melaksanakan sebuah kegiatan bernama On The Job Training. Saya sudah kenal Opik sejak lama. Dia adalah adik kelas saya sewaktu SMP dulu, kemudian menjadi teman satu kelompok saat Dinamika dulu. Lalu Dimas dan Fitri adalah jebolan dari DI Pajak di BDK Cimahi.

Selasa, 11 Maret 2014

Awas Penipuan NPWP!

Hari ini kebagian dapet tugas negara ke daerah Pacet. Ya suatu kecamatan di bagian selatan Kabupaten Bandung. Lingkungan Kecamatan Pacet didominasi oleh sawah dan kebun yang terletak di daerah berbukit-bukit. Suhu udaranya cukup adem dibanding dengan daerah Ciparay atau Majalaya yang terletak di sebelah utara. Tugas negara kali ini adalah pelayanan Drop Box SPT Tahunan dan konsultasi masalah perpajakan.  Adalah saya, seorang pelaksana dari Seksi Pelayanan dan salah satu kepala seksi sebagai ketua tim yang berangkat ke Kantor Kecamatan Pacet.

Minggu, 08 September 2013

Saya dan Organisasi

Tulisan ini terinspirasi dari mini-blog seseorang yang kemarin malam berkicau mengenai organisasi yang diikutinya saat di kampus. Saat membaca tulisannya tersebut entah mengapa menjadi flashback tersendiri teringat tentang yang pernah saya alami dulu. Momen yang pas juga ketika saat ini saya pun diharuskan membuat daftar riwayat hidup (DRH) untuk pemberkasan CPNS saya. Dalam DRH tersebut terdapat poin pengalaman organisasi, yang menurut tafsir saya tidak termasuk kepanitiaan, terutama yang pernah menjadi pengurus di dalamnya.

Selasa, 11 Juni 2013

Musik di Malam Random

Malam ini adalah malam yang sangat random. Entah mengapa. Playlist Winamp saya malam ini diisi oleh Sarasvati, YUI, One OK Rock dan Coldplay. Entah apa yang ada di pikiran saya saat menyusun playlist tersebut.
Lantunan musik Sarasvati benar-benar menghanyutkan saya pada misteri-misteri dibalik lirik dan nada-nada dibaliknya. Begitu mistis nada yang terlantun. Ini juga sebagai pelengkap dari buku Maddah karya Teh Risa yang baru saja saya baca. Jadi pengen nonton langsung perform live mereka.
YUI. Sebenarnya cuma ada 1 lagu yang ada di playlist malam ini. HELLO. HELLO adalah Original Soundtrack dari film Paradise Kiss. Kebetulan kemarin saya nonton film ini dan nonton film ini sungguh awkward moment sekali karena ada orang tua saya juga yang ikut nonton. Meski tidak terlalu ‘dewasa’ tapi tetap saja membuat awkward. Haha.
Kemudian ada One OK Rock. Saya mulai jatuh cinta dengan band asal Jepang ini. Terlebih setelah mendengar lagu The Beginning yang lagi-lagi merupakan Original Soundtrack dari sebuah film Jepang, Rurouni Kenshin. Ya film yang diangkat dari manga dan anime ini mengambil lagu The Beginning untuk menghiasi kehebatan film ini. Selain The Beginning, ada juga lagu Wherever You Are yang benar-benar menghanyutkan hati. Meski berbau cinta-cintaan tapi menurut saya lagu ini bukan untuk merayu atau menggombal tapi justru sebagai bentuk penghargaan kepada orang yang kita sayangi.
Terakhir, Coldplay. Ya saya suka band asal United Kingdom ini. Hampir di setiap playlist yang saya buat selalu ada Coldplay. Oleh karena itu, tak aneh lah jika saya masih memasukan beberapa lagu Coldplay.
Sebenarnya ada lagu yang baru saya download juga yang saya dengarkan mala mini. Alone At Last dengan lagu berjudul Cinta. Isi lagu ini begitu menyidir kalangan anak muda sekarang yang gampang galau karena cinta. Padahal banyak hal-hal yang lebih penting dan berarti dari terpuruk karena cinta.

Entah apa hubungan atau tema dari musisi yang saya dengarkan di atas. Tapi saya suka mendengar mereka semua malam ini. Mungkin benar juga musik bukan santapan hati tapi santapan telinga. Haha. Ngarang dari mana saya kata-kata itu.  

Cikuray Dalam Tiga Episode (Episode Tiga)


Babak ketiga  dari cerita Cikuray baru saja terjadi akhir minggu lalu. Awalnya Pri yang berinisiatif mengajak teman-teman eks-Papandayan untuk nanjak bareng lagi. Semula rencananya akan diikuti 8 orang tapi pada pelaksanaannya hanya 5 orang yang jadi ikut. Sebenarnya perjalanan kali ini bisa disebut kurang persiapan walau pada akhirnya banyak makanan akibat mundurnya 3 orang tadi. Pri, Putri dan Deni berangkat dari Jakarta sedangkan saya dan Mey berangkat dari Bandung menggunakan sepeda motor.

Senin, 10 Juni 2013

Cikuray Dalam Tiga Episode (Episode Dua)



Episode dua ini adalah kesempatan kedua saya untuk menjejaki tanah di gunung Cikuray. Kali ini saya berjalan bersama teman-teman SMK saya yang aktif berkegiatan di Rumah Belajar (Rubel) Cimahi. Tim ini terdiri dari saya, Helmy, Irvan, Fajar, Iso, Anu, Fahmi, Andhi, Emmy dan Boyen. Awalnya saya dan Helmy berinisiatif untuk kembali ke Cikuray pasca lebaran, tepatnya di awal September. Jodoh pun bersambut Fajar dan teman-teman di Rubel pun memiliki acara yang sama, maka kenapa tidak jika kami berbarengan berangkat ke Cikuray. Irvan yang merupakan teman SMK satu jurusan berlainan kelas mendengar kabar rencana kami dan dia meminta untuk ikut. Saya iyakan saja padahal kapasitas tenda yang kami bawa kurang mencukupi untuk 9 orang dan ini ditambah 1 orang lagi.

Cikuray Dalam Tiga Episode (Episode Satu)


Gunung Cikuray dari Puncak 2 Gunung Guntur
Cikuray. Sebuah nama gunung yang terletak di Garut, Jawa Barat. Dengan titik elevasi di angka 2.818 meter dari permukaan laut, menjadikan gunung ini tertinggi nomor empat di dataran Jawa Barat. Gunung ini memiliki beberapa jalur dari kaki bukit untuk menuju puncaknya, tapi yang paling terkenal adalah 3 jalur utama: Dayeuhmanggung, Cikajang dan Bayongbong. Jalur Dayeuhmanggung adalah jalur yang paling banyak dilalui oleh pendaki karena lebih landai dan memiliki pemandangan yang indah. Dibanding jalur Dayeuhmanggung, jalur Cikajang dan Bayongbong memiliki tingkat keterjalan yang cukup menyulitkan.
Dari tiga kali kesempatan mengunjungi gunung ini, saya menapaki perjalanan melalui Dayeuhmanggung. Di kesempatan ketiga (8-9 Juni 2013) sebenarnya saya ingin mencoba jalur Cikajang akan tetapi pesona perkebunan teh di jalur Dayeuhmanggung sungguh memikat. Tapi pada kesempatan ini tambahan tantangan yang memacu adrenalin saya hadirkan bagi diri saya dan kawan seperjalanan, Mey, yaitu mengendarai sepeda motor dari Bandung menuju Pemancar, yang merupakan titik awal pendakian. Bagaimana tidak menjadi berupa tantangan? Jupiter MX milik Mey dipaksa untuk akrab dengan gigi-1 dari gerbang Perkebunan Teh Dayeuhmanggung sampai pemancar. Jalan yang rusak berkelok-kelok dan menanjak dengan selingan turunan tajam sungguh membuat badan pegal.
Sebenarnya saya ingin bercerita secara kronologis hanya saja ingatan saya begitu buruk untuk dituangkan menjadi semacam bentuk tulisan. Saya pun menyadari betul tingkat kemalasan saya untuk menulis pun belakangan sangat tinggi. Oleh karena itu, mumpung ada perjalanan yang bisa saya ceritakan saya akan coba bercerita mengenai perjalanan saya ke gunung cikuray dalam tiga kesempatan.

Rabu, 08 Mei 2013

Timbul dan (Kebanyakan) Tenggelam


Entah berapa lama saya timbul dan (kebanyakan) tenggelam di dunia maya. Facebook yang sesekali menampilkan foto atau update buku yang saya baca di Goodreads, jarang saya sambangi. Kicauan yang tidak pernah merdu bahkan hampir benar-benar serak tak pernah terlontar lagi lewat Twitter. Blog saya pun ikut terkubur tanpa ada pos-pos baru (bahkan saya terhitung jarang membuat tulisan baru). Bosan saya dengan dunia maya.
Kemudian beberapa teman mungkin bertanya (jika sempat itupun) kemana saya.  Sebenarnya saya tidak kemana-kemana. Ada. Kadangkala (meski tak sering) ikut memperhatikan laku dari teman-teman.  Beberapa kali terdampar di daratan asing yang baru pertama kali terinjak dalam sebuah petualangan singkat baik dalam atau antar kota. Sisanya, saya hanya mondar-mandir di sekitaran rumah. Tidak produktif. Atau mungkin membaca beberapa buah buku (dan e-book) dapat dikatakan salah satu (-satunya) tindakan produktif yang saya lakukan.
Ada keinginan untuk tidak melakukan hal yang itu-itu saja. Bosan. Sama seperti dulu, sekarang pun demikian, bosan. Sama bosannya dengan tayangan infotaiment di televisi yang selalu menyuguhkan hal macam eyang-eyangan. Tapi entah kemana daya kreatifitas untuk mendobrak kebosanan tersebut hilang. Beberapa hari (mungkin juga minggu) ke belakang, saya terus mencari obat dari kebosanan ini. Bukan obat seperti goyang-goyang girlband-girlband Korea (atau imitasinya di Indonesia) yang mengobati sedikitnya dayu-dayu dari musik melayu yang digawangi ST12, Wali, dan kawan-kawan. Obat demikian hanya menyembuhkan sesaat dan ketika terus-menerus dicekoki maka akan sama seperti penyakit yang disembuhkannya. Saya butuh obat yang benar-benar racun yang bisa mematikan semua kebosanan yang ada. Obat yang tidak akan membunuh semua kegiatan yang ada tapi memberi rasa baru di setiap aktifitas saya. Obat bernama kreasi dan inovasi.
Bekerja. Kata orang bekerja sedikitnya dapat memancing daya kreatifitas seseorang. Tapi justru kegiatan bekerja ini yang saya hindari. Bukan apa-apa. Ketika saya terjebak pada rutinitas 8-17 kembali saya akan merasa semakin bosan dan terkekang. Hingga kini saya memilih untuk tidak menjadi buruh di manapun. Meskipun di akhir tahun lalu saya sempat merasakannya itu hanya untuk memberi prespektif yang baik bagi sekitar saya. Ditambah tambahan dana segar yang mengalir dapat saya belanjakan untuk aset minat saya dan tabungan untuk masa pengangguran seperti sekarang.
Entah beruntung atau tidak. Selepas 3 bulan mengabdi di sebuah perusahaan untuk sebuah proyek, saya mendapati rutinitas baru yakni bolak-balik ke rumah sakit. Bayi yang baru lahir 1 bulan dari saudara sepupu saya kedapatan memiliki gumpalan cairan di otak. Ya saya bolak-balik untuk mengantar ibu saya yang ingin menjenguk (hampir setiap hari). Alhasil setelah 1 bulan, bayi tersebut keluar dari rumah sakit.
Dari mulai saya berhenti menjadi buruh, saya memulai untuk kembali beraktifitas membaca buku. Ya memang bukan buku ilmu pengetahuan, melainkan buku novel. Tapi saya cukup senang. Agak tersita waktu saya dengan hampir setiap hari melahap kata demi kata, halaman demi halaman, dan buku demi buku. Ada ketertarikan untuk mulai membaca buku ilmu pengetahuan terutama masalah ekonomi (mungkin karena sekarang saya sudah mulai merasa bidang tersebut adalah major saya entah kini atau kelak). Hanya saja, kini saya masih lebih cenderung membaca novel. Di samping hal teresebut, saya juga sekarang sedang agak mengikuti ilmu-ilmu di bidang properti. Saya rasa menjadi agen bebas properti cukup menjanjikan.
Band? Band saya sementara ini masih vakum. Entah terlalu sering vakum mungkin menjadi terlalu biasa. Tidak ada yang bisa saya ceritakan lagi.
Selama tahun 2013 saya sudah menapaki 3 buah gunung (sampai tulisan ini dibuat), yaitu Papandayan dan Guntur di Garut serta Gede di Cianjur. Tentu ini pun akan menjadi hutang tulisan catatan perjalanan saya di blog ini. Sementara catatan perjalanan tahun lalu pun belum sempat saya bereskan.
Mungkin sebegitu saja yang dapat saya tuliskan. Nanti saya sambung lagi jika ada kesempatan.

N.B: Saya juga lagi seneng film Jepang lagi.

Senin, 21 Januari 2013

Saya, Langit dan Malam

Minggu, 20 Januari 2013

Saya suka mengamati langit. Khususnya pada malam hari. Dari semenjak kecil saya suka sekali menatap ke atas. Menengadahkan kepala saya ke arah atas. Melihat sesuatu yang tidak terbatas. Infinity. Perasaan yang maha luas dapat saya rasakan. Begitu bebas dan menenangkan. Bukan cuma cemerlangnya bulan, kilauan bintang atau misteriusnya gerhana, tapi langit malam begitu memukau saya meski hanya dengan gelapnya saja.
Sewaktu saya masih kecil. Rumah saya tidak berbentuk seperti sekarang. Masih terdapat pagar dari tembok yang mengelilingi rumah yang sekarang tergantikan oleh kios-kios yang disewakan. Saya sering sekali keluar rumah di malam hari dan menaiki pagar tembok tersebut. Menatap lama bulan apalagi ketika purnama. Mengagumi bintang-bintang yang terhampar luas. Kadang saya hanya berada di halaman rumah saja menatap ke arah timur karena di sanalah bagian langit terluas yang dapat saya lihat dari sana. Ketika dulu di kota saya, Bandung, sangatlah mudah melihat banyak bintang bertebaran di angkasa. Saat itu polusi cahaya masih sedikit dan sedikit pula bangunan yang menjulang lebih dari 2 lantai. 
Beranjak ke tingkat sekolah menengah, rumah yang saya tinggali mengalami perubahan besar. Kios-kios sewaan mulai berdiri menggantikan pagar tembok di rumah. Bangunan tua di belakang yang sering digunakan untuk menjemur pakaian sudah digantikan kamar-kamar kontrakan. Tetangga samping kiri-kanan-belakang mulai membangun rumahnya dengan ketinggian yang lumayan. Beruntung, di atas kamar-kamar kontrakan tersebut masih berupa bekas coran yang belum dibangun apapun di atasnya. Saya pindah ke tempat ini untuk mengamati langit malam. Sayangnya pada masa-masa ini, suasana langit sudah tidak seperti sekarang. Semakin jarang saya temui bintang-bintang yang berkerlip. Langit Bandung sudah mulai terlalu terang oleh temaram lampu kota. Saya sering ditemani gitar ungu (yang kini telah almarhum) saat saya berada di sana. Genjreng-genjreng tidak jelas atau cuma buat beberapa larik puisi yang pada akhirnya pun saya bakar di tempat itu.
Malam ini. Suasana langit yang jarang saya temui belakang dapat saya liat. Senja kali ini cukup menarik bagi saya. Pukul 18:00 WIB langit Kota Bandung masih terang benderang. Cuaca yang jarang saya liat mengingat dari awal tahun Bandung sering dilanda awan mendung atau hujan dari sore hingga malam. Beranjak ke malam hari setelah matahari benar-benar tenggelam. Bulan dengan fase masih setengah purnama ditemani Jupiter yang bersinar sangat terang mulai tampak terlihat mata telanjang. Ketika saya melihat ke sekeliling, saya baru menyadari jika lebih banyak bintang yang terlihat dari biasanya. Mengagumkan karya cipta Sang Khalik ini. Mungkin pemandangan ini masih kalah dibanding beberapa tahun yang lalu, tapi setidaknya mengobati kerinduan saya mengamati langit yang begitu menakjubkan.
Saya beritahu satu hal. Jika mempunyai waktu senggang di Bandung, cobalah sempatkan berkemah di kawasan Gunung Puntang. Anda akan mengerti mengapa Gunung Puntang menjadi salah satu spot favorit saya untuk melihat bintang.  

-------------

Senin, 21 Januari 2013

Menurut kalender astronomi yang saya dapat di tumblr malam nanti akan terjadi konjungsi antara bulan dan Jupiter. Konjungsi ini akan terjadi lagi di tahun 2026 nanti. Saya harap langit malam ini akan cerah sehingga saya dapat mengamatinya.

-------------

Minggu, 13 Januari 2013

Ignorance Is A Choice Too (?)


Entah kenapa belakangan ini saya agak sensitif mengenai masalah hati. Sedikit saja terusik membuat mood saya berputar-putar, naik-turun, dan labil. Ditambah beberapa teman saya sering menggoda saya. Benar-benar membuat saya malas untuk menanggapinya meski itu hanyalah gurauan. Kadang saya berpikir, masalah perasaan adalah masalah yang rentan sekali. Mudah sekali untuk dibuat high atau juga down. Mudah bahagia dan mudah juga terluka.
Sebenarnya saya tidak perlu sebuah alasan untuk membenarkan ketidakstabilan ini. Tapi jika saya harus menyebut satu, ya itu adalah saya tidak ingin melukai siapapun. Entah berapa alasan yang dibutuhkan teman-teman saya tersebut untuk mengerti jika gurauan mengenai hati memiliki takaran tersendiri. Dosis yang pas dan mungkin berbeda bagi beberapa orang (maybe I am one of them). Kelebihan dosis gurauan tesebut bisa mengakibatkan efek samping yang tidak bagus.
Nowadays, ignorance is a choice too. Ya mungkin itu yang mesti saya lakukan. Mengabaikan mereka dan menjalani hidup saya meski hanya kesenangan sendiri. I hope when I stop to give them my attention, they could understand what I mean. Saya juga manusia bisa terluka, dan maybe ada orang lain yang terluka juga di suatu tempat sana. Ketika terluka oleh gurauan, siapa yang bertanggung jawab?

Minggu, 06 Januari 2013

Sabun, 2 Ribu dan Bis Kota

Haha. Setelah sekian lama akhirnya saya bisa merasakan kembali yang namanya keberuntungan. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun saya bisa dapat hadiah. Hadiah uang tunai lagi. Meski cuma 2 ribu perak nilainya tapi bener-bener menyenangkan. Pas tadi siang saya mandi, eh ada sesuatu yang aneh di sabun mandi saya. Saya korek-korek dan tarik sesuatu seperti plastik dari dalam sabun. Jreng jreng... ternyata uang 2000 rupiah. Alhamdulillah. :D
Hari ini juga saya main ke toko buku di bilangan Jl Purnawarman. Spesialnya hari ini saya jalan-jalan ga pake motor, tapi pake bis Trans Metro Bandung koridor 2. Itung-itung nyobain bis baru dan mengenang jaman-jaman dulu. Walau agak cape karena harus dicampur jalan kaki yang agak lumayan tapi saya seneng. Great day lah pokonya hari ini :).

Sabtu, 05 Januari 2013

Prolog 2013: Hidup Terus Berjalan


Sejujurnya saya malas untuk menulis. Sekedar bercerita tentang kebosanan hidup saya belakangan ini. Padahal ini sudah masuk ke tahun yang baru. Tahun yang akhirnya memiliki 4 angka berbeda setalah terakhir terjadi tahun 1987. Sedapatnya saya bisa membuat perbedaan pula di tahun ini. Tapi entah kenapa saya begitu malas untuk memulai perbedaan tersebut. Bukan karena saya berada di zona nyaman (bahkan saya sudah meninggalkannya sejak lama), mungkin karena saya belum menemukan hal baru yang bisa saya lakukan.
Malam tahun baru 2013, saya lalui dengan tidur. Tubuh saya masih menanggung rasa sakit akibat penyakit yang mampir di tubuh ini. Sebelumnya saya memeriksakan diri ke dokter di hari Minggu. Dokter belum dapat membuat kesimpulan, namun prediksinya saya terkena gejala tipes atau gejala DB. Sejak hari Sabtu, kepala saya pusing dan sakit. Demam tinggi tak kunjung turun pula. Ditambah badan saya yang mendadak pegal-pegal.
Kejutan di awal tahun belum usai. Ternyata tumbuh gigi geraham bungsu di rahang atas bagian kanan belakang. Karena sudah tidak ada tempat, gigi tersebut tumbuh dengan cara yang tidak sempurna. Setelah mencari informasi mengenai gigi yang satu ini, saya tahu jika ada kemungkinan gigi ini akan bikin masalah suatu saat nanti meski saat ini tidak terasa sakit.
Sebenarnya masih ada yang mengganjal di akhir tahun 2012 ini. Kegagalan berangkat ke gunung Papandayan ternyata berdampak keinginan hebat untuk segera naik gunung lagi. Di awal tahun 2013 ini, ingin saya segera merealisasikan keinginan saya tersebut. Karena selain hal tersebut, saya ingin menghancurkan kebosanan akan pekerjaan saya saat ini. Ditambah saya menyaksikan film 5cm yang berlokasi syuting di gunung Semeru, semakin membangkitkan hasrat saya. Bahkan terbesit suatu niatan untuk bereuni dengan para Rainbow Effect di gunung Lawu.
Ya saya menantikan berbagai peristiwa yang semoga akan selalu memberi warna dan perbedaan tersendiri bagi hidup saya.