Tampilkan postingan dengan label warna hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label warna hidup. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juli 2015

Catatan Kecil Hari Ke-25

Sudah hampir dua minggu saya tidak mengirim pesan pada kamu. Iya saya rindu. Entah kesibukan macam apa yang melenakan saya dari kamu. Segala tetek bengek pekerjaan sudah saya lalui, setiap malam pun saya memiliki waktu senggang, tapi entah kenapa saya begitu enggan untuk mengirim pesan singkat saja pada kamu. Mungkin saya terlalu malu. Saya malu mengakui perasaan rindu ini. Kamu tahu? Kamu itu enak tidak tahu beratnya rasa rindu.
Sudah hampir dekat dengan hari raya kamu, saya masih bingung apa bisa saya berikan. Mungkin hadiah sederhana seperti tahun lalu. Karena mungkin hadiah tahun ini akan menjadi hadiah terakhir dari saya, entah perasaan saya mengatakan demikian. Banyak kemungkinan pada diri kamu, pada diri saya dan pada diri kita. Saya tidak tahu kemungkinan mana yang bakal jadi kenyataan. Membayangkan yang terbaik tapi menyiapkan yang terburuk. Itu saya.
Saya dengar akhir-akhir ini kamu semakin gelisah. Entah karena kamu merasa kesepian atau sudah ada seseorang yang mengobati kesepian kamu itu, saya tidak tahu. Tapi jika hal terakhir yang terjadi, saya turut berbahagia. Kamu tahu hal yang membahagiakan itu apa? Yakni melihat seseorang yang kita sayangi berbahagia. Semoga kebahagiaan selalu menyertai langkahmu.

Terakhir, entah kenapa pertanyaan kamu waktu itu tentang naik gunung selalu ada di pikiran saya. Saya sungguh ingin mengajak kamu naik gunung. Berdiri di puncak kemudian berteriak sepuas kita. Melihat kebun penuh bunga edelweis seperti yang kamu inginkan. Tapi entah kapan saya bisa mewujudkan keinginan kamu itu atau barangkali orang lain yang akan melakukannya. Siapa saya atau orang lain, saya hampir tidak peduli. Saya hanya ingin melihat senyum kamu lagi walau sekali.

Jumat, 01 November 2013

Minggu, 29 September 2013

Kesaksian Dari Saya

Dia adalah teman saya. Dia adalah karib saya.
Sekitar 8 tahun yang lalu awal pertemanan kami. Entah siapa dia, tapi dia adalah kawan di kelas sekolah menengah teknik saya. Duduk satu kelas hingga satu meja. Berdiskusi dari masalah electronic controller hingga virus mikrokontroler iseng buatan sendiri. Berbicara mengenai kitab-kitab di mesjid hingga komik doraemon sekalipun. Bertukar ide dari global issue hingga masalah sendal yang tertukar saat jumatan. Obrolan mengenai Tuhan hingga hati. Dia adalah teman saya.
Bagi dia sekolah bukanlah tempat yang menarik untuk mencari ilmu. Tapi setiap orang yang terlibat di dalam sekolah sangat menarik perhatiaannya untuk mencari segala ilmu pengetahuan. Dari kepala sekolah yang labil hingga satpam yang senang mengambil untung dari siswa-siswa. Sekolah cuma ritual, baginya ilmu bisa didapat dari mana saja di alam raya ini. Bahkan ketika tidak ada yang menarik di kelas, dia melirik tempat nongkrong benama WJ hanya untuk sekedar bergurau atau berbincang hal yang mungkin orang lain bilang sepele. Atau saat dia menjadi wakil ketua organisasi keagamaan sekolah dibanding dengan rutinitas skepitisnya. Dia adalah teman saya yang memilih untuk peduli pada ketidakpedulian. Dia adalah karib saya.
Ketika hempasan gelombang ilmu pengetahuan menggugah apa  yang disebut ide untuk melawan, dia datang dengan anak-anak ilham yang menakjubkan. Bukan untuk pamer kepada dunia, tapi melawannya. Sejarah, filsafat, sastra dan seni begitu merasuk pada dirinya. Bahkan ketika Tuhan pun terlibat dalam setiap upayanya. Dia memberi saya arti dari cerah saat buta mungkin hampir menghinggapi. Dia yang memberi saya belati ketika saya mesti menusuk satu mata. Dia adalah teman saya.

Empat tahun dan mungkin lebih dari cukup ketika emosi yang meledak kini tahu kemana harus melangkah, karya. Lewat sentimen lagu rohani hingga jadi alunan palu dan sabit revolusi bergema. Lalu menjadi kakak dari sekian ratus adik-adik dari rahim ibu-ibu saudarinya. Hingga akhirnya jendelalah yang menjadikan dunia tampak jelas untuk dilawannya. Kritik, hegemoni atau hanya gegap yang ditahan hingga gempita sunyinya alam di Puncak Meong. Dia telah buktikan bahwa hal kecil akan menjadi besar ketika dimulai. Dia adalah karib saya.

*untuk seorang teman

Minggu, 13 Januari 2013

Ignorance Is A Choice Too (?)


Entah kenapa belakangan ini saya agak sensitif mengenai masalah hati. Sedikit saja terusik membuat mood saya berputar-putar, naik-turun, dan labil. Ditambah beberapa teman saya sering menggoda saya. Benar-benar membuat saya malas untuk menanggapinya meski itu hanyalah gurauan. Kadang saya berpikir, masalah perasaan adalah masalah yang rentan sekali. Mudah sekali untuk dibuat high atau juga down. Mudah bahagia dan mudah juga terluka.
Sebenarnya saya tidak perlu sebuah alasan untuk membenarkan ketidakstabilan ini. Tapi jika saya harus menyebut satu, ya itu adalah saya tidak ingin melukai siapapun. Entah berapa alasan yang dibutuhkan teman-teman saya tersebut untuk mengerti jika gurauan mengenai hati memiliki takaran tersendiri. Dosis yang pas dan mungkin berbeda bagi beberapa orang (maybe I am one of them). Kelebihan dosis gurauan tesebut bisa mengakibatkan efek samping yang tidak bagus.
Nowadays, ignorance is a choice too. Ya mungkin itu yang mesti saya lakukan. Mengabaikan mereka dan menjalani hidup saya meski hanya kesenangan sendiri. I hope when I stop to give them my attention, they could understand what I mean. Saya juga manusia bisa terluka, dan maybe ada orang lain yang terluka juga di suatu tempat sana. Ketika terluka oleh gurauan, siapa yang bertanggung jawab?

Minggu, 06 Januari 2013

Menakjubkan Seperti Biasanya


Ini ada kali yang ke sekian saya menulis tentang kita. Emh mungkin lebih tepatnya tentang kamu, tidak ada saya, atau barangkali hanya sedikit. Banyak pertanyaan yang lalu lalang di pikiran saya tentang kamu, dimana kamu dan apa yang sedang kamu kerjakan. Tapi mungkin saya tidak berhak tahu mengenai semua itu. Lantas tak apalah jika saya mencoba mencuri sedikit ceritamu agar saya dapat menerka lebih dekat tentang semua jawaban pertanyaan tadi.
Hingga saat ini, saya merasa setengah langkah lebih mengenal sosok kamu. Benar seperti yang diduga sebelumnya, kamu benar-benar dapat untuk melengkapi saya. Meski ternyata perbedaan kita itu adalah hal yang tidak saya sukai. Kamu pintar dan punya wawasan luas. Hanya saja gaya mu sesungguhnya kurang saya sukai karena mirip para kaum ‘elitis’. Perbedaan karena saya tidak suka itu.
Kamu lebih suka menggunakan mata dan telingamu dibanding mulut atau tanganmu. Saya sejujurnya suka dengan cara demikian. Terlebih yang membuat saya lebih jatuh cinta pada sosokmu adalah ketepatan saat dan sesuatu yang dihasilkan mulut dan tanganmu. Hanya terkadang dirimu hanya terfokus pada satu hal saja. Emh bolehlah saya mengekor polahmu yang demikian.
Daya nalar atau mungkin lebih tepat kepekaan prediksimu memiliki 2 sisi yang berbeda bagi saya. Satu sisi ini mengagumkan dan sisi lainnya: saya tidak suka jika kamu benar. Jauh hari kamu sudah tahu jika kita dapat bersama itu berarti kita akan selalu saling menyakiti bukan? Tingkahmu yang selalu menjaga sesuatunya normal-normal saja sesungguhnya hanya pertahanan diri yang kamu lakukan agar kita tidak saling menyakiti. Dan saya baru menyadari itu barusan, beberapa menit yang lalu sebelum saya menulis ini. Ah saya tidak suka jika kamu benar.
Tapi, seperti biasanya kamu selalu menakjubkan hati saya.