Kamis, 19 April 2012

mungkin badai tak selalu ribut

sebagaimana hebatnya aku bertindak kamu selalu melampaui kemampuanku
Di sela-sela pengerjaan makalah Pajak Internasional ini, saya mengalami distraksi luar biasa yg mungkin orang sebut kegilaan. Entah kegilaan macam apa yg sudah menghinggapi tubuh kecil ini. Membuat semesta kecil saya semakin menyusut. Konsentrasi ini buyar, pekerjaan yg seharusnya bisa dikerjakan 1-2 jam saja harus molor sampai lebih dari 3 jam. Ia, dia lah pelakunya.
hei orang asing, yg baru bertemu beberapa kali yg baru aku kenal kemarin sore, kenapa kau sudah mengacak2 seluruh hidupku? kenapa aku begitu peduli padamu? padahal belum tentu kau demikian padaku? sebagaimana hebat diriku mengatur hidupku, sia2 diberantakan oleh parasmu, sebagaimana hebatnya aku berdiri, tetap ambruk oleh senyummu, sebagaimana hebatnya aku bertindak kamu selalu melampaui kemampuanku,,
sepertinya semesta kecil di otak ini telah dikomandoi oleh hati setiap sela detik yg ada, sepertinya aku penasaran Tuhan sedang tersenyum padaku atau marah padaku, tentang keadaan aku sekarang..
Ya tulisan itu secara tiba-tiba tertulis dan terkirim di sebuah jendela messenger saya.  Saya menulis itu dengan jantung berdebar-debar luar biasa dalam makna sebenarnya. Sepertinya saya memang sudah gila beneran, Setiap saat begitu haus tentang dirinya. Setiap waktu tak bisa berhenti untuk menjelajah alam pikiran ini, bertanya dan benyata di alam pikiran.

Jumat, 30 Maret 2012

(?)

Seperti hanya sebuah tanda tanya. Tanpa kata tanya. Apa, siapa, di mana, kapan, berapa, bagaimana sudah tidak punya arti lagi. Cahaya telah terlalu kejam untuk hanya berbahasa. Biasa saja. Seharusnya aku tahu itu adanya. Aku adalah nebula. Oh tidak hanya bintang mati. Lubang hitam raksasa yang tidak tahu apa-apa. Hanya kambing luar angkasa yang tidak memilik tanda hidup apapun. Makhluk hijau yang rapuh ketika badai angin laut tiba. Aku selalu percaya jika jagat raya yang gelap ini karena ada batas antaranya. Tapi tanda tanya ini tidak berhasil untuk menjadi gelap. Terlalu terang untuk sekadar mengetahui. Membuat segalanya seperti bualan saja. Jika lelah, berhentilah sebelum bintang-bintang lain meledak. Menebar debu angkasa di antara puing tanda tanya. Seperti kamu, angkasa raya adalah tanda tanya.


Kamis, 29 Maret 2012

Edelweis dan Hujan


Edelweis pagi ini masih menyapa bangun tidurku. Wanginya masih sama meski sudah lama dan kering. Tidurku yang hanya sekejap seolah memberi energi lebih untuk bisa membuat semesta berkomplot mendukung aku dari belakang. Bulir-bulir darah yang aku rasakan dari setiap denyut jantung memompa, aku coba nikmati dan resapi. Sensasi begitu menakjubkan ketika aku memulai menikmatinya.
Pagi ini ada edelweis yang aku bawa pergi menuju kawah gunung berapi. Letupan-letupan yang mencoba membakar aku, aku tak peduli. Selesai hingga edelweis itu aku lepaskan pada seorang kawan perjalanan. Berharap bertemu edelweis lain di jalur pulang ke rumah.
Aku singgah di sebuah pondok tempat semua orang tertawa. Meski tidak tertawa aku terjebak dalam gundah yang sudah sedemikian menggunung di kepalaku, oh tidak, di hatiku. Kuntum-kuntum itu belum mekar juga. Aku tidak mengerti. Kadang saat halilintar melewatiku begitu cepat aku tidak tahu satu detik itu begitu lama. Keringat bercucuran entah di mana muaranya.
Satu sabda alam akhirnya muncul, aku bergerak mengikuti suara-suara gemerisik daun yang telah lama ku genggam ini. Akhirnya aku bertemu dengan edelweis yang lain. Di depan ku sederhana. Di depan ku pondok tempat tertawa. Aku genggam dan aku rasakan hembus angin yang sangat di luar perkiraanku. Begitu sejuk. Meleleh dan tak bisa ku lanjutkan darah untuk mengaliri hidupku. Rasanya rohku ingin lepas berlari dan menari bersama bidadari.
Belum bisa ku petik edelweis ini sampai benar aku yakin bisa ku gapai dari tepi jurang ini. Hujan turun. Namun bukan sebuah petaka melainkan jadi lagu latar aku merenungi ini. Kombinasi terbaik siang hari ini. Harus aku sanggup bertahan di atas segala ini, menanti edelweis yang cantik ini di tempat sedingin ini. Dingin dalam nuansa. Semesta dan aku. Edelweis dan hujan.

Senin, 26 Maret 2012

cikuray

percaya atau ga terserah, tapi ini adalah pemandangan terindah selama saya saat buang air besar...

Sabtu, 03 Maret 2012

20 Lagu Terbaik Arctic Monkeys


Hampir 7 tahun, sejak pertama kali mendengar When The Sun Goes Down meraung dari speaker radio. Single Arctic Monkeys tersebut telah membuat saya jatuh cinta pada band yang digawangi oleh Alex Turner dkk. Dari mulai lagu tersebut saya mencari lagu-lagu lainnya, bahkan saya kumpulkan mp3-mp3 nya sampai lengkap hingga album terakhir Suck It And See. Selalu tidak sabar untuk menanti setiap single yang mereka keluarkan. Selain lagu, artwork dari setiap singlenya juga menarik bagi saya. 7 tahun itu pula saya mendengar proses pendewasaan bermusik mereka, dari mulai Garage Rock sampai sekarang dengan musik-musik Britpop/rock yang khas.
Cerita-cerita sederhana dari kehidupan sehari-hari mulai dari kejadian yang tidak terduga hingga masalah cinta mereka tuangkan menjadi lirik-lirik khas Arctic Monkeys. Bahkan tak jarang mereka menambahkan kata-kata baru yang sama sekali tidak ada dalam kamus Bahasa Inggris manapun. Meski demikian kita, pendengar, masih mengerti maksud dari lagu-lagu mereka tersebut. Dari 7 tahun tersebut, saya iseng-iseng mencoba untuk memilih 20 lagu terbaik yang pernah mereka luncurkan, baik berasal dari album maupun single.
Kenapa 20 lagu? Saya rasa terlalu banyak bahkan semua lagu mereka itu semuanya bagus, saya sampai bingung untuk menentukan mana yang terbaik dari perspektif saya. Jika 10 lagu saya pilih, maka lagu-lagu bagus lainnya kurang tersampaikan juga, sayang sekali bukan? Oleh karenanya saya pilih 20 lagu, saya rasa cukup mewakili bagaimana dahsyatnya British Invasion II pada pertengahan dekade 2000-an. Check These Out.
  1. I Bet You Look Good On The Dancefloor (Whatever Poeple Say I Am, That's What I'm Not)
  2. Brianstrom (Favourite Worst Nightmare)
  3. Cornerstone (Humbug)
  4. Brick By Brick (Suck It And See)
  5. Only One Who Knows (Favourite Worst Nightmare)
  6. Old Yellow Brick (Favourite Worst Nightmare)
  7. When The Sun Goes Down (Whatever Poeple Say I Am, That's What I'm Not)
  8. A Certain Romance (Whatever Poeple Say I Am, That's What I'm Not)
  9. The View From The Afternoon (Whatever Poeple Say I Am, That's What I'm Not)
  10. Crying Lighting (Humbug)
  11. The Hellcat Spangled Shalalala (Suck It And See)
  12. Fluorescent Adolescent (Favourite Worst Nightmare)
  13. Temptation Greet You Like Your Naughty Friend (Brianstrom [Single])
  14. Fake Tales of San Francisco (Whatever Poeple Say I Am, That's What I'm Not)
  15. Reckless Serenade (Suck It And See)
  16. My Propeller (Humbug)
  17. Mardy Bum (Whatever Poeple Say I Am, That's What I'm Not)
  18. Pretty Visitors (Humbug)
  19. Black Treacle (Suck It And See)
  20. Teddy Picker (Favourite Worst Nightmare)
* maaf 20 lagu ini hanya sampai album Suck It And See saja. 

Kamis, 16 Februari 2012

izinkan saya berkicau sekali lagi



Bingung ma nulis apa setelah berhari-hari ga nulis. Entah memang saya udah terjebak pada rutinitas untuk tidak menulis atau saya bosan untuk menulis. Saya rasa yang pertama karena walau ga punya bakat nulis tapi masih cinta buat merangkai kata (walau ga nyambung). Minimal saya berkicau di twitter pun ga jadi masalah.
Twitter saya sekarang ini makin ga jelas arah kicauannya (se ga jelas yg punya akunnya). Udah kaya sampah dari otak dan dari hati dicecerin di timeline walau para follower ada yg ngerti dan ada yg ngga bahkan kebanyakan ga peduli. Ya biar sajalah hak mereka juga buat peduli atau ngga. Saya sendiri bingung sebenernya apa gunanya twitter dan kenapa saya sendiri jadi lebih aktif di twitter dibanding di Facebook atau jejaring sosial lainnya.
Menurut tolololpedia, “Twiiter adalah situs yang logonya adalah burung kenari lagi nengger dipohon lagi ngintip Amingwati karena dulunya situs ini digunakan oleh para penjual burung untuk membahas penjualan burung mereka.”. Ya mungkin gunanya buat jualan burung dulunya. Semenjak si Larry (maskotnya Twitter) muntah-muntah gara-gara tiap malem over capacity mulu jadi dipake buat menggalau, curcol sembarang tempat atau sekedar jadi micro-blog.
Micro blog, blog kecil berkapasitas 140 karakter untuk setiap postnya. Entah ga kebayang tulisan ini buat di post di twitter pasti ga muat. Kasian ntar si Larry nya lagi, muntahnya ntar bareng ma keyboard, mouse, cpu dan keluarganya. Setidaknya isi twitter itu lebih baik yg berbobot sedikit. Bisa berupa pepatah, sapaan ringan (sapaan berat kaya gimana ya?), RT quote, informasi penting nan singkat, kasih tau kamu lagi dimana atau lain sebagainya. Jangan dijadiin ajang jual diri, nunjukin kelemahan diri, forum jual beli (dijamin pusing tuh layanin pelanggan lewat tweet-tweet), atau apapu yg bisa bikin ribet sendiri.
Tips aja buat follower atau following: followers bebaskan saja siapapun boleh akses info dari kamu kecuali jika isi twitter kamu ga layak, ga boleh, atau emang ga ada di twitter. Kalo buat following sih mending yg kira-kira kita butuh update infonya, idola kita juga boleh, orang-orang yg kita kenal baik  dan jangan yg suka ngflood dengan galau-galauan yg super ga penting. Mending kalo ada akun yg emang bagus tapi sering banjir tweet, di save aja pas search nya jadi mudah juga buat tetep mantau. Satu hal lagi waspada lah stalker seperti saya #ups. Hehe.
Awal mulanya twitter saya pake buat majang-majang quote orang, terus kaya update status FB (karena bosen di FB yg boleh bikin status kaya memorandum aja), kemudian dipake ngobrol walau sebenernya lebih asik YM atau Gtalk, dan terakhir dan paling utama saat ini adalah sebagai temapat sampah penggalauan hati dan pikiran. Sebaiknya jangan banyak ngobrol di Timeline, hal itu ganggu follower kamu, mungkin aja ntar jadi pundung dan unfollow kamu (pengalaman pribadi). Tips juga jangan lupa buat ucapin terima kasih ma follower baru meskipun ga kenal sebagai wujud penghargaan aja (Ga berat lah cuma 1 tweet mah).
Udah ah nulisnya. Panjang-panjang kalo di sini nulis. Jadi mau balik lagi berkicau di Twitter. Dan pesan terakhir jangan lupa follow saya di @LankRRase (promosi hehe :D).

:cheers
-@LankRRase-

Senin, 06 Februari 2012

untitled #2

Ini bukan tentang siapa dan bagaimana seperti yang biasa terdengar. Tapi lebih kepada apa dan kenapa terasa. Bukan tentang kolase yang ku buat agar tahu betapa indah hidup itu. Tapi ini adalah ceceran dari bintik mozaik hari yang kuhadapi setiap 24 jam sekali. Keinginan yang salah yang tak pernah mau ku cari pembenaran atas tersebut. Saat mereka mencari yang nyata nan sejati, ku berkelana untuk yang fana dan tidak benar. Untuk setiap tetes cahaya saat bulan purnama bersinar, tak akan terbakar api oleh api. Seperti mata Dajjal yang manunggal, kini ditiup jadi abu belulang. Aku hanya takut pada kesemuan yang ku temukan.
Berlanjut pada babak dimana aku tak tahu salah dan benar itu seperti apa. Apa seperti kebohongan seorang anak kecil yang takut dimarahi? Ataukah seperti pukul-pukulan pengantar nyawa pencuri yang lapar? Oh dunia, dimana ku hidup di sana aku mencoba bicara. Pada laut yang ingin ku genggam, pada langit yang ingin ku lompati dan pada gurun pasir yang ingin kusirami hingga banjir. Sama seperti pengertianku, tak ada pemahaman tentang apa dan kenapa. Layaknya Amstrong yang entah benar ia menabrakan kakinya di satelit ataukah ganja yang ilegal karena kapas? Ini adalah kenang-kenangan dari 3 masa perbudakan Firaun.
Andromeda! Berkilaulah seperti permata habis dibakar bilah-bilah gerigi. Aku yang tak menjangkau mu hanya punya 2 binar untuk terpukau. Aku tak ingin meminjam panah sang putra Venus. Atau mereinkarnasikan mereka dari wujud Pisces. Hanya panah Arjuna tersisa untuk memotong urat melahirkan kesturi-kesturi baru di alam melayang. Cukup batas hanya selayar terkembang. Antara dunia mayamu dan perasaanku. Titik.